Oleh: agusisasuwito | Januari 6, 2009

Pasien Jamkesmas Keluhkan Layanan

Pasien Jamkesmas Keluhkan Layanan

Jawa Pos – SURABAYA – Problem yang mendera pasien yang mencari kesembuhan di RSU dr Soetomo bukan hanya jalan panjang menuju meja operasi. Sebagian pasien, kebanyakan pasien jamkesmas, juga merasa diperlakukan tak layak. Mereka merasa didiskriminasi.

Muara problem itu memang penumpukan pasien yang inden operasi di rumah sakit milik Pemprov Jatim tersebut. Hingga akhir Desember 2008, pasien yang antre mencapai 575 orang. Dari jumlah itu, 60 persen di antaranya adalah pasien jamkesmas.

Menurut Direktur Instalasi Rawat Darurat (IRD) dr Soetomo dr Urip Murtedjo SpB(K)KL, antrean di pengujung tahun lalu tersebut masih mending. Sebab, enam bulan lalu, sekitar Juni 2008, pasien yang antre operasi di institusi itu mencapai seribu orang.

Urip menuturkan, tidaklah mudah menurunkan angka daftar tunggu (waiting list). Sebab, dibutuhkan komunikasi intensif dan terus-menerus antara petugas RS dengan pasien.

Urip mengungkapkan, ada dua cara yang biasa dilakukan RSU dr Soetomo untuk menyokong komunikasi itu. Pertama, pasien diharuskan meninggalkan fotokopi KTP ketika kali pertama mendaftar di kamar tunggu bedah (KTB). Kedua, pasien wajib mencantumkan nomor telepon atau handphone (HP) yang bisa dihubungi sewaktu-waktu. “Jika sewaktu-waktu kamar tiba-tiba kosong, kami bisa langsung bisa menginformasikan. Dulu, kami memakai surat, tetapi ternyata tidak efektif,” paparnya.

Tetapi, Urip menyesalkan karena banyak pasien yang nomor HP dan teleponnya tidak bisa tersambung. Padahal, menurut pria yang juga menjabat wakil direktur Pendidikan dan Penelitian RSU dr Soetomo tersebut, para petugas sudah berkali-kali menghubungi. “Mungkin, rumahnya jauh di desa pelosok sana. Ya, itu kan kesalahan pasien yang tidak melapor dan tidak bisa dihubungi,” terangnya.

Keterangan Urip tersebut dibantah oleh Sutiah, bukan nama sebenarnya, seorang pasien jamkesmas. Penderita kanker payudara asal Kecamatan Kanor, Bojonegoro, itu mengaku sudah delapan bulan menunggu panggilan telepon untuk menjalani terapi penyinaran (radioterapi). Tetapi, sampai sekarang tidak ada respons sama sekali. “Padahal, saya sudah meninggalkan nomor HP anak saya, Indra,” ujar wanita 45 tahun tersebut.

Ketika Jawa Pos menghubungi Indra, ternyata nomor tersebut masih aktif. Selama dua tahun terakhir, Indra yang bekerja sebagai kuli bangunan itu menyatakan tidak pernah berganti nomor ponsel. “Saya bahkan beberapa kali telepon, tetapi petugas menjawab dengan tak acuh,” ucap Indra yang ditemui saat sedang bekerja memasang keramik di sebuah tempat kos kawasan Jalan Dharmawangsa itu.

Hal sama dialami Marni. Wanita asal Banyuwangi yang mengantar ibunya untuk mengobati kanker serviks tersebut bahkan pernah dibentak oleh seorang operator telepon ketika menanyakan kepastian radioterapi. “Kalau perlu, telepon saja setiap hari,” kata Marni menirukan ucapan operator itu. “Saya heran, melayani orang sakit kok jawabannya jahat sekali,” lanjutnya dengan nada geram.

Saat ini Marni kapok menelepon petugas. Dia menyatakan pasrah saja kapan radioterapi dilaksanankan. “Bagaimana lagi, wong kami tidak punya pilihan,” ujar dia.

Ketika dikonfirmasi, Urip yang awalnya mengatakan tidak ada pembedaan antara pasien umum dan jamkesmas dalam pelayanan kesehatan itu akhirnya mengakui bahwa hal tersebut terjadi. Dia menuturkan, memang selama ini ada pengelompokan terpisah antara pasien jamkesmas dan umum.

Selain jumlah pasien jamkesmas sangat banyak, yakni tiga kali lipat dari pasien umum, dia beralasan kondisi itu terjadi lantaran pasien umum dan jamksemas memiliki sumber pembiayaan berbeda. “Iya kan, biaya jamkesmas berasal dari APBN, sedangkan umum kan kantong pribadi, mau tidak mau harus dibedakan,” ucap dia.

Dia juga menyebut bahwa alat radioterapi yang dimiliki RSU dr Soetomo sangat terbatas. Saat ini, untuk melayani pasien kanker yang jumlahnya mencapai ratusan, hanya ada dua alat yang dimiliki. “Kami satu-satunya yang punya di wilayah Indonesia Timur. Sedangkan harga alat itu sangat mahal. Saya enggan berkomentar soal rinciannya, tetapi harganya sampai Rp 10 miliar lah,” tegasnya. (nur/dos)


Responses

  1. Jual Alat-Alat kesehatan Medical – Hospital – Laboratory – Chemical
    TKP:http://nusatriutama.blogspot.com/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: