Oleh: agusisasuwito | Oktober 7, 2008

Isep Gojali, Produknya untuk Orang Sakit

Isep Gojali, Produknya untuk Orang Sakit

MIMPI yang jadi kenyataan! Kalimat ini paling pas buat Isep Gojali (40), pelaku usaha kecil menengah khusus memproduksi mebel rumah sakit dan alat-alat kesehatan. Impian Isep terwujud. Perseroan Terbatas Sarandi Karya Nugraha, yang dia dirikan tahun 1998 dengan modal Rp 500.000, kini memproduksi 150 jenis peralatan rumah sakit, mulai dari timbangan badan hingga ambulans, dan sudah beromzet miliaran rupiah setiap tahun.

Apa yang diraih Isep tidak terjadi begitu saja, tetapi melalui perjalanan panjang dan berliku. Menjadi pengusaha memang impian Isep sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar di Cianjur, Jawa Barat. “Ketika masih anak-anak, dalam diri saya sudah tertanam keinginan, kelak harus punya perusahaan yang dirintis sendiri. Maka, 1996 saya memilih “pisah” dengan kakak saya, Ahmad Syarifudin, dan mendirikan perusahaan sendiri,” kata lulusan Institut Sains Teknologi Nasional, Jakarta, ketika ditemui di pabrik yang memproduksi berbagai ragam mebel rumah sakit dan peralatan kesehatan bermerek Karixa di Sentra Industri Sukabumi (Sentris), Jawa Barat, pekan lalu.

Bekas karyawan distributor alat-alat kesehatan impor ini mendirikan perusahaan saat krisis ekonomi melanda negeri ini, tepatnya April 1998. Meski ekonomi sedang krisis, dia tetap nekat mendirikan perusahaan karena saat itu produk impor sama sekali tidak dilirik akibat merosotnya nilai tukar rupiah secara tajam. Padahal, peralatan rumah sakit sebelum krisis hampir 90 persen produk impor.

Terus berfluktuasinya kurs dollar AS dan kurs sempat menembus level Rp 15.000 berdampak terhadap melambungnya harga barang-barang impor. Rumah sakit pemerintah maupun swasta kelimpungan untuk pengadaan alat-alat kesehatan karena harganya terus meroket hingga sulit dijangkau.

“Feeling saya, masa krisis itu saat tepat mendirikan pabrik karena produksi barang untuk rumah sakit ke depan sangat prospektif. Apalagi, kalau produknya berkualitas dan harga pasti lebih murah ketimbang impor,” ujar Isep.

Tekad pria yang suka membaca ini, ditambah kegemaran serta keahlian mengutak-atik mesin sejak kecil, memacu Isep terus berinovasi menciptakan berbagai peralatan kesehatan. “Hati saya galau melihat seluruh peralatan di rumah sakit ketika itu seluruhnya impor. Padahal, teknologinya sangat sederhana dan orang Indonesia bisa membuat lebih berkualitas dengan harga pasti lebih murah,” kata laki-laki kelahiran Cianjur, 18 Mei 1964, ini.

Apalagi, sebelum mendirikan perusahaan sendiri ia sudah mendapat pengalaman berkat ikut mengembangkan bisnis beras orangtuanya, sebagai pedagang beras dan unit penggilingan padi unit kecil dan barang-barang kelontong untuk skala kecamatan. Secara bersamaan ia bersama kakaknya membuat sekaligus memasarkan peralatan medis, seperti ophtalmological optical table, meja yang dipakai dokter mata memeriksa pasien, bak cuci tangan, dan instrument trolley dengan merek NT-Nuritek.

Awal membuka usaha di Sentris tahun 1998, Isep hanya memiliki satu unit bangunan di atas lahan seluas 200 meter persegi. Pekerjanya pun tak lebih dari 15 orang. Berkat kegigihan dan didukung pendampingan dari Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) serta dukungan modal kerja dari perbankan dan badan usaha milik negara saat ini usaha Isep sudah berdiri di atas lahan 4.000 meter persegi.

Bersama 150 karyawan ditambah 20 subkontraktor dengan pekerja 150 orang, produk berupa peralatan medis kini telah merambah seantero Nusantara melalui jasa distributor, kecuali ambulans. Setiap bulan perusahaan yang telah meraih standardisasi ISO 9002 ini bisa memproduksi sedikitnya 16 unit ambulans berteknologi canggih dan mewah seharga Rp 300 juta per unit, meja operasi 40 unit, dan tempat tidur 400 unit.

Model dan desain seluruh produk, termasuk ambulans yang dibuat sesuai perkembangan pasar itu, merupakan karya PT Sarandi Karya Nugraha. Khusus ambulans, kepala mobil dan mesin diambil dari Toyota Astra Motor dan produk elektronik kandungan impor masih 20 persen, sedangkan produk manual bahan baku 100 persen buatan dalam negeri.

SUAMI dari Rita Adriani ini pun terus memutar otak untuk mengembangkan bisnis peralatan kesehatan di tengah membanjirnya produk serupa dari Taiwan, Korea, dan China. Keunggulan produk Karixa pada kualitas dan model. Soal kualitas tidak bisa dikalahkan produk serupa meski impor. Selain itu, dia terus menawarkan desain baru mengikuti perkembangan zaman.

Apalagi ayah dari tiga anak ini pun tengah menerapkan sistem on line dalam setiap kegiatan di perusahaan, mulai dari absensi karyawan, kebutuhan dan penggunaan bahan baku, pesanan pelanggan, serta stok barang di gudang. “Proses produksi dari awal hingga akhir harus dilakukan melalui jaringan sehingga semuanya bisa saling memantau kinerja, termasuk track record karyawan. Jadi, kalau ada karyawan yang menuntut perbaikan kesejahteraan, kinerjanya ditunjukkan apakah pantas atau tidak gugatan itu dipenuhi,” kata pria yang menekuni olahraga terbang layang ini.

Dalam mengembangkan usaha, ayah tiga anak ini pun menerapkan sistem manajemen terbuka, termasuk rekrutmen karyawan. Seluruh karyawan yang umumnya penduduk setempat adalah lulusan sekolah teknik menengah (STM). Kalaupun ada satu-dua yang bukan lulusan STM, minimal mereka memiliki nalar soal teknik.

“Begitu masuk, karyawan dipoles melalui pelatihan dan bimbingan rohani. Jika karyawan merasa kariernya mentok di perusahaan, saya anjurkan buka usaha baru dan saya bantu modal awal termasuk pemasaran produk,” kata dia. Jadi, tidak heran meski sudah berstatus pengusaha besar, Isep yang juga pengurus Asosiasi Produsen Alat Kesehatan (Aspaki) tidak ingin maju sendiri, tetapi ingin maju bersama dengan subkontraktor yang umumnya mantan karyawannya.

“Buat apa saya besar, tetapi subkontraktor susah dapat order. Saya ingin maju bersama dengan memanfaatkan jaringan pemasaran yang sudah ada. Makin banyak pemain baru di sektor peralatan kesehatan, makin besar dorongan untuk mengembangkan gurita perusahaan,” ujar pria yang masih terlibat dalam proses produksi di perusahaannya ini.

Isep sudah merangkul mimpinya, tetapi bukan berarti ia harus berhenti. Justru sekarang ia tengah mempersiapkan seluruh jaringan di perusahaan dan jika sudah sempurna, anak juragan beras di Cianjur ini ingin mengembangkan bisnis memproduksi peralatan olahraga yang menurut intuisi bisnisnya pangsa pasarnya masih luas.(AGNES SWETTA PANDIA)

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 25 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: